Nasional

Prasasti Ini Patahkan Hoax Majapahit Kerajaan Islam dan Gaj Ahmada

Senin, 19 Juni 2017

My24hours.net, Indonesia – Belakangan ini viral informasi hoax mengenai Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Islam dan nama Patih Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada. Hoax ini muncul di media sosial Twitter dan memunculkan berbagai reaksi.

Nama Gaj Ahmada adalah hoax (berita bohong) berdasarkan buku Majapahit Kerajaan Islam.
Nama Gaj Ahmada adalah hoax (berita bohong) berdasarkan buku Majapahit Kerajaan Islam.

Setelah ditelusuri hoax Majapahit Kerajaan Islam bermula dari sebuah buku ‘Majapahit Kerajaan Islam’ karangan Herman Sinung Janutama. Meskipun buku tersebut diberi judul dengan kata “Fakta mengejutkan” dan diklaim sebagai kajian ilmiah, namun bukti valid yang mendukung teori tersebut sangat lemah.

Buku yang penerbitannya didanai oleh Lembaga Hikmah dan Kajian Publik Pengurus Daerah (LHKP PD) Muhammadiyah Kota Yogyakarta tersebut kemudian digunakan sebagai bahan viral hoax nama Gajah Mada sebagai Gaj Ahmada.

Hoax viral tersebut berpegangan kepada klaim keberadaan koin bertuliskan syahadat, tulisan pada nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya adalah seorang Muslim, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada, dan dikaitkan pula dengan eksodus besar-besaran warga Muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada tahun 1293.

Namun klaim tersebut mudah dipatahkan. Sebagai contoh, koin bertulisan kalimat syahadat ditulis dengan bahasa Arab ternyata di sisi lain koin itu ada gambar wayang Semar dan Kresna (salah satu dewa dalam agama Hindu). Ini bukti bahwa koin tersebut bukan karya yang digunakan sebagai mata uang yang sah dalam sistem kerajaan yang berciri dan menganut asas tunggal dalam hal ini Islam.

Keberadaan koin bertuliskan syahadat justru diduga hanya merupakan suatu upaya awal memasukan nilai-nilai Islamis dalam kehidupan masa itu. Seperti halnya penggunaan wayang untuk menyebarkan agama Islam. Tapi ini bukan berarti kehidupan mayoritas rakyat Majapahit menganut agama Islam.

Yang paling menohok mematahkan teori Mahapahit Kerajaan Islam adalah keberadaan prasasti yang disebut dengan Prasasti Singhasari 1351 atau dikenal dengan Prasasti Gajah Mada 1351 Masehi.

Sesuai dengan namanya, prasasti ini berasal dari tahun 1351 pada masa Kerajaan Majapahit, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah.

Prasasti yang ditulis dengan aksara Jawa ini dibuat untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada.

Istilah caitya sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “pengingat” atau “pengenang”, merupakan bangunan yang dugunakan oleh umat Buddha untuk mengenang mendiang orang-orang yang dihormati.

Pada bagian awal prasasti tersebut menyebutkan secara terperinci penanggalan saat caitya tersebut dibuat yaitu di bulan purnama Wesaka atau disebut juga Waisak, sebuah penanggalan bulan merujuk pada hari suci agama Buddha.

Dalam prasasti tersebut juga terdapat istilah-istilah agama Hindu dan Buddha seperti Siwa, Buddha, moksa, dan brahmana. Tidak terdapat istilah Islamis atau bahasa Arab bahkan dalam penyebutan untuk nama Gajah Mada yang disebut dalam prasasti sebagai Rakryan Mapatih Mpu Mada bukan Gaj Ahmada.

Berikut isi Prasasti Prasasti Singhasari 1351 atau dikenal dengan Prasasti Gajah Mada 1351 Masehi.

/ 0 / ‘i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; ‘irika diwaśani
kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha /’ ; /’ swa-
sti śri śaka warṣatita ; 1273 ; weśaka māsa tithi pratipā-
da çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niri tistha graha-
cara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;
sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwweśa ; kistughna ;
kâran.a wrs.abharaçi ; ‘irika diwaça sang mahâmantri mûlya ; ra-
kryan mapatih mpu mada ; sâks.at. pran.ala kta râsika de bhat.â-
ra sapta prabhu ; makâdi çri tribhuwanotungga dewi mahârâ
ja sajaya wis.n.u wârddhani ; potra-potrikâ de pâduka bha-
t.âra çri krtanagara jñaneçwara bajra nâmâbhis.aka sama-
ngkâna twĕk. rakryan mapatih jirṇnodhara ; makirtti caitya ri
mahâbrâhmân.a ; śewa sogata samâñjalu ri kamokta-
n pâduka bhaṭâra ; muwah sang mahâwṛddha mantri linâ ri dagan
bhat.âra ; doning caitya de rakryan. mapatih pangabhaktya-
nani santana pratisantana sang parama satya ri pâda dwaya bhat.â-
ra ; ‘ika ta kirtti rakryan mapatih ri yawadwipa maṇḍala /’

Terjemahan:

Pada tahun 1214 Saka (1292 Masehi) pada bulan Jyestha (Mei-Juni) ketika itulah
sang paduka yang sudah bersatu dengan Siwa Buddha.
Salam Sejahtera! Pada tahun Saka 1273 (1351 Masehi), bulan Waisaka
Pada hari pertama paruh terang bulan, pada hari Haryang, Pon, Rabu, wuku Tolu
Ketika sang bulan merupakan Dewa Utama di rumahnya dan (bumi) berada di daerah barat laut.
Pada yoga Sobhana, pukul Sweta, di bawah Brahma pada karana
Kistugna, pada rasi Taurus. Ketika sang mahamantri yang mulia. Sang
Rakryan Mapatih Mpu (Gajah) Mada yang dia seolah-olah menjadi perantara
Tujuh Raja seperti Sri Tribhuwanotunggadewi Mahara-
jasa Jaya Wisnuwarddhani, semua cucu-cucu Sri Paduka
Almarhum Sri Kertanegara yang juga memiliki nama penobatan Jñaneswara Bajra
Dan juga pada saat yang sama sang Rakryan Mapatih Jirnodhara yang membangun sebuah caitya bagi kaum
Brahmana yang agung[1] dan juga para pemuja Siwa dan Buddha yang sama-sama gugur
Bersama Sri Paduka Almarhum (=Kertanagara) dan juga bagi para Mantri senior yang juga gugur bersama-sama dengan
Sri Paduka Almarhum. Alasan diabangunnya candi pemakaman ini oleh sang Rakryan Mahapatih ialah supaya berbhaktilah
Para keturunan dan para pembantu dekat Sri Paduka Almarhum.
Maka inilah bangunan sang Rakryan Mapatih di bumi Jawadwipa.
Sumber: wikipedia.org.

Selain Prasasti Gajah Mada, keberadaan candi-candi bernapaskan Hindu dan Buddhis serta sejumlah kitab-kitab sastra seperti Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dan Nagarakretagama karya Mpu Prapanca yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit menjelaskan kondisi Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada yang jelas-jelas bukan merupakan kerajaan Islam.

Penggunaan nama satwa seperti “gajah”, “lembu” atau “kebo” pada sebuah nama di masa kerajaan kuno juga merupakan hal yang umum. Seperti halnya yang disebut dalam Kitab Pararaton yang menyebutkan nama seorang tokoh bernama “Gajah Pagon” atau pun “Lembu Sora”.

Sedangkan nama Gaj Ahmada bukan merupakan nama yang ada dalam tata bahasa Jawa kuno.

Entah apa tujuan sebenarnya pengarang buku ‘Majapahit Kerajaan Islam’, apakah murni kajian ilmiah ataukah untuk mencapai popularitas instan atau ada maksud-maksud tertentu demi kepentingan kelompok tertentu, yang pasti teori bahwa Majapahit Kerajaan Islam adalah sangat lemah karena tidak adanya bukti-bukti yang menyokongnya.

Sebaliknya, Kerajaan Mahapahit sebagai kerajaan bernapaskan Hindu dan Buddha sangat ditunjang oleh peninggalan-peninggalan sejarah yang saling melengkapi.[My24]

Kata kunci: ,
Penulis:

 
loading...