Gaya Hidup

Cara Memecahkan 3 Misteri Perilaku Anak yang Negatif

Kamis, 20 September 2018

My24hours.net, Amerika Serikat – Apakah ada perilaku anak Anda yang negatif seperti sering telat, susah untuk membereskan, dan harus diberitahu berulang-ulang?

Para psikolog menyelidiki tiga misteri masalah terbesar yang dialami orang tua terhadap perilaku anak tersebut, dan bagaimana Anda dapat mengatasinya.

Mengapa anak-anak tidak berlekas ketika akan terlambat?

Kita semua pernah mengalaminya. Anda harus meninggalkan rumah dalam 10 menit dan sudah memberi tahu mereka lima kali. Sekarang Anda menemukan anak yang satu bermain mobil-mobilan dan yang lain tergeletak di tempat tidurnya memakai piyama.

Mengapa anak-anak tidak dapat memahami kebutuhan untuk tepat waktu, dan cepat ketika Anda terlambat?

Menurut para ahli, hal itu adalah bagian biologi, bagian psikologi, dan juga sebagian cara kita memperlakukan mereka.

Dimulai dengan biologi, psikolog Amerika, Jocelyn Brewer menjelaskan anak-anak tidak memiliki korteks depan awal yang sepenuhnya berkembang sehingga sedikit yang kita gunakan untuk perilaku kompleks seperti perencanaan, memahami konsekuensi dan membuat keputusan.

Jadi anak-anak belum pandai merencanakan apa yang perlu mereka selesaikan, belum mengetahui kapan hal itu perlu dilakukan. Mereka juga belum bisa menyusun perintah untuk melakukan sesuatu. Dan mereka mungkin bahkan tidak mengerti apa artinya tepat waktu, atau mengapa itu penting.

Di atas itu, anak-anak belum menguasai banyak dasar-dasar keterampilan yang dibutuhkan untuk bersiap-siap, seperti mengikat tali sepatu atau mengemasi tas mereka. Sehingga mereka belum bisa mempercepat tindakan ini.

“Mereka tidak memiliki paparan untuk berlatih dan mempraktikkan keterampilan untuk melakukannya lebih cepat,” kata Brewer.

Hal itu mencakup mengapa anak-anak tidak mempercepat tugas individunya, tetapi tidak menjelaskan mengapa mereka memainkan alat musik kecil daripada bersiap-siap untuk sekolah.

Psikolog Kirrilie Smout mengatakan sikap terburu-buru dan tidak ingin terlambat adalah prioritas orang dewasa.

Anak-anak tidak memiliki motivasi yang sama untuk menyelesaikan pekerjaan dan tepat waktu, dan itu sangat normal.

“Mereka tidak pandai membaca situasi sosial, mengingat informasi, tetap fokus, bergerak cepat, memahami konsekuensi dari perilaku mereka,” kata Smout.

Dengan kata lain, kita tidak punya harapan mereka mengerti bahwa kita tidak ingin terlambat, berjalan melewati mainan yang berantakan, atau menyadari bahwa mereka masih harus menggosok gigi dan melakukannya dengan cepat untuk agar kita sebagai orang tua tidak kesusahan.

Untuk menghindari kekecewaan, Smout menyarankan agar orang tua mencoba memahami bahwa seorang anak mungkin tidak ingin melakukan hal-hal tertentu. Dan anak-anak perlu bertanggung jawab untuk memastikan semuanya selesai dilakukan.

Yang menjadi masalah adalah Anda mulai meneriakkan perintah dari kamar sebelah untuk membuat semuanya bergerak. Akhirnya luapan amarah anak terjadi dan harapan untuk keluar rumah tepat waktu menghilang.

Ahli terapi keluarga Jacqueline McDiarmid mengatakan di sinilah orang tua perlu mengelola perilaku mereka sendiri, dengan tetap berpegang pada rutinitas yang baik, mengawasi kecemasan mereka sendiri dan mempertahankan nada suara yang tenang.

Berikut 3 misteri perilaku anak dan solusinya.
Mengapa begitu sulit untuk membuat anak-anak merapikan sesuatu?

Tampaknya begitu jelas bagi kita, jika ada sesuatu di lantai, maka itu perlu disingkirkan. Tetapi anak-anak tampaknya dapat menganggap suatu area itu rapi, meskipun terlihat seperti tornado yang baru saja menerjang.

Sebagian dari masalahnya adalah ruangan yang rapi adalah prioritas orang dewasa. Sementara anak-anak jauh lebih tertarik untuk menuangkan semua Lego mereka ke lantai untuk mengubah kotak-kotak itu menjadi rumah unicorn baru mereka, dan mereka tiduran santai di sofa.

Kimberley O’Brien, psikolog utama di The Quirky Kid Clinic, mengatakan anak-anak mungkin melihat tidak ada gunanya merapikannya karena mereka tahu akan berantakan lagi dan mereka harus merapikan semuanya lagi dan lagi.

“Jadi mencoba untuk menemukan alasan yang baik di balik pekerjaan itu lebih baik daripada menjadikannya hal lain yang harus dilakukan,” katanya.

McDiarmid berpikir banyak orang tua kecewa ketika anak mereka keluar jalur, atau tidak bekerja sama. Hal ini karena orang tua mengharapkan anak-anak mereka berperilaku seperti orang dewasa kecil.

Dia mengibaratkan seorang anak diberi tugas besar seperti merapikan kamar untuk orang dewasa yang akan bekerja dalam keadaan mabuk. Anak-anak mungkin akan kehilangan fokus, melupakan apa yang mereka lakukan, menyelesaikan tugas, dan kemudian melupakan yang lain.

“Jika seseorang tetap di belakang mereka, mereka mungkin akhirnya bisa menyelesaikan tugas,” katanya.

McDiarmid menyarankan jika Anda ingin seorang anak menyelesaikan suatu tugas, singkirkan gangguan dan lakukan sedikit-sedikit sehingga mereka tidak kewalahan.

Tetapi yang terpenting, jagalah rasa frustrasi Anda jika mereka tidak bekerja sama.

Mengapa Anda harus memberi tahu anak-anak hal yang sama berulang kali?

Anda tentu pernah memberi tahu anak-anak Anda untuk menaruh kaus kaki yang telah dipakai ke tempat cuci pakaiaan, tetapi tetap saja mereka menaruhnya di sembarang tempat. Setiap kali mereka membuka pakaian, mereka selalu melaukanb hal yang sama: membuka, menjatuhkan, dan langsung pergi.

Brewer berpikir masalah di sini adalah bahwa anak-anak masih belajar untuk memproses hubungan (relevansi) dari apa yang kita katakan. Jadi mungkin mereka tidak berkomitmen untuk mengenang permohonan kita untuk tidak meninggalkan pakaian di lantai, untuk menggunakan alat makan saat makan nasi, atau tidak menempelkan sendok di telinga kakaknya.

“Tidak semua informasi yang kita terima disimpan, sebagian besar akan dihilangkan dari memori yang bekerja,” ia menjelaskan.

Untuk mencegah agar keluhan kita tidak terus-menerus dikesampingkan, anak-anak memerlukan kejadian yang membuat permohonan kita berhubungan bagimereka. Dengan demikian mengunci permohonan kita ke dalam memori dan mengubah kebiasaan mereka.

Misalnya, Anda berulang kali meminta anak-anak Anda meninggalkan sepatu mereka di dekat pintu, sehingga mudah ditemukan. Maka suatu hari Anda harus mengatakan bahwa mereka tidak dapat pergi ke taman, karena mereka tidak dapat menemukan sepatu mereka.

“Kenyataan mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan (pergi ke taman) karena mereka tidak mengikuti instruksi (letakkan sepatu Anda di dekat pintu) memberikan ingatan episodik yang membantu untuk mendukung kebiasaan itu,” kata Brewer.

Yang tidak menghasilkan mengatasi perilaku anak ini adalah memberi kuliah kepada anak-anak tentang bagaimana Anda lelah setelah bekerja, dan mengatakan bahwa bukan tugas Anda untuk menjaga barang mereka.

“Sering kali orang tua menjadi salah karena mereka kemudian mulai menguliahi anak seperti orang dewasa yang kecil,” kata McDiarmid.

Jadi jangan ada teriakan perintah dari dapur saat Anda sedang membuat makan malam.

Jika memungkinkan, Dr. O’Brien menyarankan untuk menemukan cara agar membuat tugas menjadi menyenangkan. Misalnya, dengan memasang musik dan melakukannya bersama-sama dan bekerja dalam jangka waktu tertentu sehingga tidak terlalu lama.

Dengan solusi yang tepat, Anda dapat memecahkan misteri perilaku anak yang sering dihadapi oleh orang tua.[My24]

Sumber: ABCnet

Kata kunci:
Penulis:
SHARE ARTIKEL INI AGAR LEBIH BANYAK PEMBACA
loading...