Kesehatan

5 Mitos Negatif tentang Penyakit Mental

My24hours.net, Indonesia – Mitos negatif tentang penyakit mental bukan saja mengaburkan tentang fakta dari penyakit itu sendiri tapi juga memperparahnya.

5 Mitos Negatif tentang Penyakit Mental
Gbr: Youtube

Penyakit mental atau gangguan jiwa atau penyakit jiwa adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia.

Meskipun faktanya banyak masyarakat dunia yang mengidap penyakit mental, namun mitos-mitos negatif tentang penyakit mental juga ikut membayangi.

Dalam sebuah bukunya tahun 1961 yang berjudul The Myth of Mental Illnesses, Thomas Szasz membahas kepercayaan dirinya bahwa penyakit mental adalah diagnosis yang tidak perlu digunakan sebagai alasan untuk memaklumi perilaku moral dan sosial dari orang-orang berkekurangan. Beberapa orang masih memiliki pandangan tersebut terhadap penyakit mental, tetapi sebagian besar masyarakat telah memahami selama bertahun-tahun apakah sebenarnya penyakit mental itu.

Meskipun kita telah mencapai pemahaman yang lebih baik tentang penyakit mental, masih ada banyak mitos tentang hal itu yang memiliki efek berbahaya pada perawatan mereka yang memiliki kondisi psikologis.

Berikut 5 Mitos Negatif tentang Penyakit Mental

1. Orang dengan gangguan mental cenderung keras

The Sun, sebuah surat kabar di Inggris, merilis sebuah artikel yang mengatakan bahwa lebih dari 1.200 orang di Inggris telah terbunuh oleh orang-orang dengan penyakit mental dalam 10 tahun terakhir. Statistik itu benar, tetapi yang gagal mereka informasikan adalah bahwa 97% kematian yang dicatat adalah karena bunuh diri.

Pada kenyataannya, perilaku kriminal pada orang dengan berpenyakit mental sangat kecil. Dan orang dengan sakit mental adalah mereka yang lebih mungkin mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Mereka lebih cenderung mengalami reaksi psikologis yang intens untuk menjadi korban.

2. Orang mudah keluar dari penyakit mental jika ia benar-benar menginginkannya

Sebuah mitos yang populer, terutama tentang orang-orang dengan depresi dan kecemasan menyebutkan bahwa penyakit itu terjadi karena orang tersebut terlalu sensitif dan dapat dengan mudah memperbaiki masalahnya. Kalimat mitosnya yang ada seperti, “Mereka hanya ingin perhatian,” atau, “Mereka suka merasa sengsara.”

Faktanya, penyakit mental sering memiliki faktor agen yang memengaruhi preposisi dan ketidakseimbangan kimia yang tidak mudah ditaklukkan oleh hanya kekuatan keinginan untuk mengatasinya. Hal tersebut adalah hal yang sulit, bahkan untuk mengambil langkah pertama berupa mencari bantuan, dan mengumpulkan keberanian untuk mengakui kepada diri sendiri bahwa ada masalah serius. Menemukan terapis dan keharusan melalui proses uji coba juga membutuhkan banyak waktu dan sulit.

Beberapa orang bahkan memilih untuk melawannya sendiri. Berurusan dengan penyakit mental bisa menakutkan, menguras emosi, dan melelahkan. Harus menyatukan diri dan berjuang sambil mengambil satu ons dukungan yang bisa Anda dapatkan merupakan hal yang cukup sulit.

3. Cinta dan dukungan adalah obat mutlak untuk penyakit mental

Terapis dan dokter akan selalu memberi tahu Anda bahwa dukungan sosial merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pemulihan. Tetapi itu mungkin tidak selalu menjadi cara jitu untuk memperbaiki penyakit mental seseorang.

Kita semua pernah melihat film tentang seorang anak dengan masalah perilaku serius atau seorang gadis yang menderita ledakan emosi menjadi lebih baik di akhir film karena seseorang mengatakan bahwa gadis itu dapat dicintai dan mencintai.

Kisah film itu adalah konsep yang menyentuh, tetapi jika Anda mengharapkan ini dalam kehidupan nyata, Anda akan benar-benar kecewa. Mereka bisa mengalami ketakutan akan penolakan dalam sosialisasi.

Hebat rasanya memiliki seseorang yang membantu dan mendukung sepanjang perjuangan Anda, menunjukkan bahwa ia peduli terhadap Anda. Namun orang dengan sakit mental dapat mengalami kesulitan bahkan dalam mempercayai hal itu sejak awal.

Mengharapkan kemajuan dari menunjukkan cinta dan kasih sayang dalam dukungan dengan tingat yang sama setiap hari akan lebih sulit, terutama pada hari yang sangat buruk bagi orang yang sedang ditolong.

4. Memiliki penyakit mental adalah sebuah hukuman mati sosial

Kesadaran akan penyakit mental dan apa yang menyebabkannya meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1950-an.

Penyakit mental telah menjadi sangat disadar dan menjadi lebih dapat diterima. Lebih daripada penyakit fisik dalam beberapa kasus. Beberapa bahkan melihatnya bahwa memiliki penyakit mental adalah tanda pemahaman yang lebih besar tentang apa artinya menjadi manusia.

Ardilla-Gomez, S., seorang peneliti di Argentina menemukan bahwa bahkan tinggal di dekat tempat yang menawarkan layanan kesehatan mental dapat meningkatkan tingkat penerimaan dan pemahaman dari 21% menjadi lebih dari 80% populasi terhadap penyakit mental. Orang-orang tanpa penyakit mental memahami apa yang dialami beberapa orang dan bersedia untuk membantu jika mereka bisa.

5. Anda akan dicap negatif

Ini adalah ketakutan besar ketika harus membuat keputusan untuk pergi ke profesional kesehatan mental.

Alih-alih dianggap sebagai seseorang, Anda akan merasa dicap sebagai orang dengan bipolar, anoreksia, skizofrenia, dll. Beberapa klien akhirnya merasa mereka tidak terlihat dan tidak dihargai sebagai pribadi.

Para terapis Rogerian (terapi yang berpusat pada orang) telah mendorong penanganan dari terminologi orang pertama. Misalnya, alih-alih menyebutnya sebagai “anak autis” yang Anda gunakan adalah “anak dengan autisme”. Hal ini lebih menekankan pada orangnya dan bukan pada penyakitnya. Beberapa peneliti bahkan berdebat apakah dengan memberi tahu klien mereka diagnosis resmi mereka dapat bermanfaat untuk pemulihan mereka atau tidak.[MY24]

Kata kunci: ,
Penulis:
SHARE ARTIKEL INI AGAR LEBIH BANYAK PEMBACA