Kesehatan

Makan Makanan Tinggi Serat Kurangi Risiko Penyakit Kronis dan Mematikan

My24hours.net, Amerika Serikat – Makanan tinggi serat mengurangi risiko penyakit kronis dan mematikan di kemudian hari.

Sebuah analisis terbaru menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan tinggi serat memiliki risiko kematian dan penyakit kronis seperti stroke atau kanker yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang asupan seratnya rendah.

Serat makanan tersebut termasuk karbohidrat nabati seperti sereal gandum, biji-bijian dan beberapa kacang-kacangan. Manfaat kesehatan serat telah dicatat “oleh lebih dari 100 tahun penelitian,” Andrew Reynolds, seorang peneliti di University of Otago di Selandia Baru, menulis dalam sebuah surel. Dia adalah peneliti meta-analisis baru dari penelitian yang ada, yang diterbitkan pada Kamis (10/1/2019) di jurnal The Lancet.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa asupan serat yang lebih tinggi “menyebabkan berkurangnya insiden berbagai penyakit yang secara mengejutkan sangat luas (penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan kanker kolorektal),” mengurangi berat badan dan kolesterol total, dan mengurangi angka kematian, tulis Reynolds. Temuan serupa ditunjukkan dengan peningkatan terhadap asupan gandum.

Tim Reynolds ditugaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia untuk menginformasikan rekomendasi asupan serat di masa depan.

Para peneliti tersebut menganalisis lebih dari 180 penelitian observasi dan 50 uji klinis dari empat dekade terakhir. Itulah kekuatan analisis, jelas Jim Mann, peneliti lainnya yang juga profesor nutrisi manusia dan kedokteran di Universitas Otago.

“Manfaat kesehatan dari serat makanan nampaknya bahkan lebih besar dari yang kita duga sebelumnya,” kata Mann tentang hasil penelitiannya.

Analisis tersebut menemukan 15% hingga 30% pengurangan risiko kematian dan penyakit kronis pada orang yang memasukkan serat paling banyak dalam makanan mereka, dibandingkan dengan mereka yang asupannya paling rendah.

Jumlah Makanan Tinggi Serat yang Dibutuhkan dalam Sehari

Makanan kaya serat dikaitkan, rata-rata, dengan penurunan risiko stroke 22%, risiko diabetes tipe 2 dan kanker kolorektal 16% lebih rendah, dan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner 30% lebih rendah.

Mengenai temuan tersebut Mann mengatakan bahwa kebanyakan orang secara global mengonsumsi sekitar 20 gram serat makanan per hari. Berdasarkan penelitian tersebut, ia merekomendasikan 25 gram hingga 29 gram serat setiap hari. Jumlah yang lebih tinggi bahkan lebih bermanfaat, menurut analisis tersebut.

Peningkatan 15 gram serealia utuh (whole grain) yang dikonsumsi per hari terkait dengan penurunan 2% hingga 19% dalam total kematian dan insiden penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2 dan kanker kolorektal.

Penelitian tersebut mencatat bahwa hubungan antara konsumsi serat tinggi / serealia utuh dan berkurangnya penyakit tidak menular bisa menjadi hubungan sebab-akibat.

Analisis tersebut tidak menemukan bahaya dengan asupan serat yang tinggi. Tetapi analisis itu menambahkan bahwa untuk orang-orang dengan kekurangan zat besi, kadar serealia utuh yang tinggi dapat mengurangi kadar zat besi lebih lanjut.

Para peneliti juga mencatat mengenai karbohidrat tersebut termasuk gula, pati dan serat makanan. “Namun gula, pati, dan serat semuanya adalah karbohidrat yang melakukan peran berbeda dalam tubuh,” tulis Reynolds.

Kandungan serat terbukti menjadi indikator yang lebih baik untuk mencegah penyakit atas kemampuan makanan karbohidrat daripada indeks glikemik, yaitu ukuran kenaikan glukosa darah setelah makanan tertentu dimakan.

Indikator Terbaik

Penelitian tersebut menemukan pengurangan risiko kecil pada stroke dan diabetes tipe 2 untuk orang-orang yang mengikuti diet indeks rendah glikemik, yang melibatkan makanan seperti sayuran hijau, sebagian besar buah, kacang merah dan sereal sekam.

Indeks glikemik tidak sebagus serat makanan ketika mempertimbangkan apakah suatu makanan mengandung karbohidrat yang baik, kata Mann. Makanan yang tidak meningkatkan glukosa darah mungkin masih tinggi gula, lemak jenuh dan natrium. Es krim, misalnya, memiliki indeks glikemik rendah tetapi tinggi gula.

Salah satu batas dari analisis tersebut adalah bahwa penelitian tersebut hanya melibatkan individu yang sehat. Dengan demikian temuan ini tidak berlaku untuk orang dengan kondisi kronis yang sudah ada sebelumnya. Juga, sebagian besar penelitian tersebut dilakukan di masyarakat Barat. Sehingga hasilnya tidak “100% pasti” berlaku untuk masyarakat yang kurang beruntung, kata Mann menjelaskan.[My24]

Kata kunci: ,
Penulis:
SHARE ARTIKEL INI AGAR LEBIH BANYAK PEMBACA
loading...