Kesehatan

Penelitian: Merokok Terkait Keringkihan Fisik pada Manula

Senin, 28 Agustus 2017

My24hours.net, Inggris Raya – Sebuah penelitian menyebutkan, manula yang merokok cenderung memiliki fisik yang ringkih (lemah) daripada mereka yang mantan perokok atau yang tidak pernah menggunakan produk tembakau.

Ilustrasi

Para peneliti mempelajari orang berusia 60 atau lebih di Inggris yang belum mengalami apa yang disebut keringkihan, sebuah istilah yang menggambarkan kurangnya ketahanan dan serapan fisik yang membuat orang lebih rentan terhadap ketidakmampuan saat mereka sakit atau mengalami luka seperti saat jatuh.

Setelah empat tahun masa tindak lanjut, para perokok 60 persen lebih cenderung menjadi ringkih dibanding peserta yang tidak merokok.

“Mereka yang berhenti merokok di masa lalu tidak memiliki risiko keringkihan yang sama, ini menunjukkan bahwa berhenti merokok cenderung memberi manfaat dalam kehidupan bahkan jika terlambat,” kata Dr. Gotaro Kojima dari University College London, pemimpin penelitian tersebut, seperti yang dilansir Reuters, Jumat (25/8/2017).

“Ini (berhenti merokok) berpotensi menurunkan risiko menjadi ringkih,” kata Kojima melalui email.

Sementara keringkihan yang berkaitan dengan penuaan, dikatakan bahwa itu tidak bisa dihindari. Gejalanya bisa meliputi penurunan berat badan, kelelahan, gerak berjalan yang melambat, rendahnya aktivitas fisik, dan berkurangnya massa otot. Manula yang lemah berisiko tinggi terjatuh, patah tulang, rawat inap dan penurunan kognitif.

Untuk melihat apakah merokok dapat memengaruhi risiko keringkihan, para peneliti menganalisis data dari survei Inggris yang melibatkan 2.542 orang manula.

Pada awal penelitian, 56 persen peserta dianggap “kuat” karena mereka tidak melaporkan adanya keringkihan. Sisanya memiliki satu atau dua gejala keringkihan tapi tidak cukup untuk diklasifikasikan sebagai keringkihan.

Secara keseluruhan, 1.113 peserta adalah mantan perokok dan 261 orang lainnya masih merokok.

Mereka yang masin merokok memiliki risiko keringkihan yang meningkat bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor lain yang dapat berperan seperti usia, jenis kelamin, penggunaan alkohol, pendidikan, pendapatan dan fungsi kognitif.

Namun, mantan perokok, tampaknya tidak memiliki peningkatan risiko keringkihan. Juga tidak ada perbedaan dalam risiko keringkihan berdasarkan pada kapan mereka berhenti merokok, apakah satu dekade sebelumnya atau baru-baru ini. Demikian lapor para peneliti dalam Jurnal Age and Aging.

Keadaannya tampak berbeda, namun, ketika peneliti meneliti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), komplikasi umum dari merokok adalah membuat seseorang sulit bernafas. PPOK dikaitkan dengan peningkatan risiko kesulitan keseimbangan, kelemahan otot, tulang yang menipis, hilang dan penurunan kesadaran.

Ketika para peneliti memasukan PPOK sebagai pertimbangannya, merokok yang masih dilakukan saat ini tidak lagi memengaruhi risiko keringkihan. Hal ini menunjukkan bahwa perokok lebih cenderung menjadi lemah karena PPOK bukan dari merokok itu sendiri, demikian kata para peneliti menyimpulkan.

Penelitian ini bukan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah merokok menyebabkan atau tidak suatu keringkihan.

Keterbatasan lainnya adalah para peneliti tidak memiliki data tentang berapa banyak orang yang merokok. Selain itu, peserta yang keluar dari penelitian ini dari waktu ke waktu cenderung lebih ringkih dan lebih sakit daripada mereka yang masih tinggal dan yang masuk dalam analisis akhir.

Meski begitu, temuan tersebut memberi kesempatan kepada para perokok untuk berhenti merokok, kata Dr. Teemu Niiranen, seorang peneliti dari Boston University’s Framingham Heart Study.

Niiranen, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan melalui email, “Selain menyebabkan kanker, merokok bisa merusak jantung, paru-paru, pembuluh darah, mulut, organ reproduksi, tulang, kulit dan mata. “Disfungsi di semua sistem organ ini memengaruhi keringkihan pada usia tua.”

Berhenti merokok tidak dapat membalikkan atau mencegah semua masalah kesehatan yang terkait dengan berapa lama merokok, catat Dr. Christian Delles dari Institute of Cardiovascular and Medical Sciences di University of Glasgow, Inggris.

Namun penelitian tersebut menyarankan berhenti merokok dapat membuat perbedaan ketika keringkihan datang, Delles, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan melalui email.

“Risiko keringkihan (Mantan perokok) sama rendahnya dengan orang yang tidak pernah merokok,” kata Delles. “Tidak ada kata terlambat untuk berhenti.”

Menurut badan kesehatan dunia WHO, faktanya tembakau telah membunuh lebih dari setengah penggunannya. Hampir 80 persen dari lebih 1 miliar perokok di dunia tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.[My24]

Kata kunci:
Penulis: