Panduan

Panduan Pemimpin untuk Mengatasi Kepanikan Wabah Penyakit

My24hours.net, Indonesia – Bagaimana cara seorang pemimpin bisnis mengatasi kepanikan wabah penyakit yang menyebar dan dapat memengaruhi sektor bisnis?

Panduan Pemimpin untuk Mengatasi Kepanikan Wabah Penyakit
Gbr: shutterstock

Hal negatif yang sering muncul dari suatu musibah khususnya wabah penyakit yang berskala internasional adalah ketakutan dan kepanikan. Dan dampak dari ketakutan dan kepanikan ini dapat mengganggu berbagai sektor termasuk sektor perekonomian.

Sebagai contoh, penyakit yang disebabkan oleh virus korona atau disebut COVID-19 mulai mewabah di akhir tahun 2019. Saat penyakit ini menyebar tidak sedikit orang yang merasa takut dan panik.

Meskipun saat belum jelas sejauh mana wabah COVID-19 akan berdampak pada kesehatan epidemiologis, sosial, dan ekonomi kolektif kita, namun sangat jelas bahwa masyarakat merasa ketakutan dan sektor bisnis sedang mempersiapkan skenario sisi buruk.

Jika Anda seorang pemimpin bisnis yang mengajukan pertanyaan sulit tentang seberapa tangguh bisnis Anda, disarankan memulai dengan pertanyaan yang lebih penting secara mendasar: Seberapa tangguh orang-orang di bisnis Anda?

Tantangan

Bagi siapa pun yang mengelola pekerja, kondisi baru dalam bisnis ini memerlukan navigasi lebih dari dampak aktual pada tenaga kerja, rantai pasokan, dan pengalaman pelanggan. Itu berarti membuat pekerja tetap fokus, gesit, dan mampu mengelola melalui situasi yang berubah cepat dan merugikan. Jelas, menjaga tenaga kerja Anda tangguh dalam kondisi ini akan menjadi tantangan, tetapi juga peluang.

Dalam hal tantangan, wabah penyakit bukan hanya sebuah gembar-gembor, meskipun kegilaan media mungkin menambah ketakutan kita. Hal itu mungkin dapat memengaruhi pengambilan keputusan bisnis baik dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

Setiap karyawan memainkan bagian dalam ekosistem bisnis. Dan ketika orang mulai membuat keputusan berdasarkan reaksi emosional, maka segala sesuatunya dapat berisiko. Mulai dari tujuan tingkat tinggi hingga praktik pengoperasian semua dapat berisiko.

Di luar kepanikan dan kegelisahan, juga terjadinya peningkatan gangguan dari larangan perjalanan dan perintah bekerja dari rumah. Selain itu, gangguan rantai pasokan, penangguhan investasi non-strategis dan kondisi seperti resesi seperti biasanya akan berdampak pada bisnis kita sehari-hari. Ketika pekerja tersebar, lebih sulit untuk memeriksa mereka, lebih sulit untuk mengelola implikasi budaya. Selain itu juga berpotensi lebih sulit untuk tetap gesit dan adaptif. Namun, pada saat terjadi tekanan, tetap gesit dan adaptif lebih penting daripada sebelumnya.

Kondisi panik saat ini menciptakan peluang dan keharusan bagi para pemimpin bisnis untuk mulai dengan memberikan contoh. Pemimpin perlu melakukan praktik-praktik utama untuk memengaruhi pola pikir tangguh, dan juga mengambil langkah-langkah untuk mendorong organisasi yang lebih tangguh.

Dikutip dari Forbes, berikut panduan untuk pemimpin bisnis dalam mengatasi kepanikan wabah penyakit. Lima praktik utama perlu untuk diterapkan dan didorong untuk berhasil mengelola bisnis dalam melalui masa-masa yang tidak biasa ini.

Panduan Pemimpin Bisnis Mengatasi Kepanikan Wabah Penyakit

1. Tetap jaga emosi Anda

Sebuah wabah penyakit bisa mendorong kecemasan global dan ketakutan yang sama. Hal itu karena kita semua hidup dalam keadaan ketidakpastian yang ekstrem ini. Namun, sebagai pemimpin dalam sebuah organisasi, Anda yang mengatur situasinya.

Bersikap tenang: Bersikap realistis tentang situasi yang ada, dan simpan kepanikan Anda. Ambil “situasi khawatir” untuk Anda sendiri, tetapi biarkan diri Anda memiliki ruang untuk curhat. Ini akan membantu membatasi kekhawatiran Anda pada waktu dan tempat yang tepat tanpa membahayakan moral karyawan Anda. Memberi karyawan informasi yang akurat dan terkini, sambil memasukkan pesan-pesan positif. Pesan-pesan positif yang berhati-hati sangat membantu, terutama ketika karyawan bekerja dari jarak jauh.

2. Tetap Realistis

Orang-orang akan mulai menjadi depresi dalam situasi ekstrem ini. Ini adalah respons alami yang berakar pada pertahanan diri. Optimisme membuta dapat dianggap sebagai sesuatu yang meremehkan dan tidak jujur ​​dalam situasi seperti ini. Namun Anda dapat bersikap optimisme realistis; merencanakan hasil yang terbaik. Hal ini melibatkan menentukan skenario terburuk, diikuti oleh skenario terbaik, dan akhirnya mengacu pada apa yang paling mungkin terjadi.

Kemudian uraikan langkah-langkah untuk mewujudkan hal ini dengan cara yang produktif dan praktis. Orang-orang Anda perlu mendengar bahwa Anda memiliki rencana. Tentukan langkah-langkah sebelum Anda membaginya, dan pastikan itu adalah langkah yang dapat Anda lakukan.

3. Penyesuaian diri adalah kunci

Bekerja secara cerdas berarti melakukan penyesuaian berdasarkan informasi yang Anda miliki. Tetapkan kebijakan yang memungkinkan orang untuk bekerja dengan cerdas dan dengan risiko minimal. Berkomunikasi dengan tim Anda mengenai tujuan dan tanggung jawab, secara individual (jika memungkinkan), pada tingkat organisasi, dan online. Tentukan alat terbaik untuk membantu orang-orang Anda tetap fleksibel, terlibat, dan terhubung. Batasi jumlah energi yang dihabiskan untuk berspekulasi.

4. Dorong Empati

Saat respons rasa takut kita dapat meningkat tanpa alasan, respons rasa takut itu sendiri adalah normal. Pertama dan yang terpenting — bahkan sebelum menyusun rencana — pastikan untuk memberikan landasan dukungan kepada karyawan Anda. Ini adalah kunci untuk membangun kepercayaan dengan karyawan Anda, yang, menurut penelitian, lebih cenderung berada di belakang pemimpin yang terjalin hubungannya dengan mereka.

Daripada mencoba “memperbaiki” situasi, justru Anda cukup mendengarkan saja. Menurut definisi, empati adalah mengambil perspektif lain, yang akan membantu karyawan Anda mengurangi rasa kesendiriannya dalam perasaan apa pun yang mereka rasakan. Selain itu, daripada pesan-pesan yang manis untuk orang-orang, cobalah berhubungan dengan perasaan mereka dan bersikap jujur ​​tetapi mendukung situasi saat ini.

5. Berdayakan Orang-Orang Anda

Terakhir, tetapi yang sangat penting, mendorong intervensi, pemberdayaan, dan perawatan diri. Beri pesan bahwa menerima bantuan bukanlah suatu masalah. Buat alat untuk membantu orang tetap fleksibel, bebas dari bahaya, dan mendorong rasa kerja tim dan kolaborasi. Bahkan, jika karyawan dikarantina atau bekerja dari jarak jauh untuk jangka waktu lama.

Bantu karyawan untuk membantu diri mereka sendiri. Pada saat ketidakpastian, kita lupa atau mengabaikan perawatan diri yang paling mendasar. Kita harus melakukan apa yang harus selalu kita lakukan: Merawat diri sendiri, mencuci tangan, dan membuat penyesuaian untuk berolahraga di rumah. Hal-hal ini memberi kita kendali ketika dunia pada umumnya tampak kewalahan. Demikian menurut salah satu pendiri dan kepala Medical Officer meQuilibrium, Dr. Adam Perlman, yang juga merupakan Direktur Integratif Kesehatan dan Kesejahteraan untuk Mayo Clinic Florida dan Direktur Medis untuk Kesejahteraan Karyawan di kampus Mayo Florida.

Ketika sampai pada ketidakpastian, kita mungkin tidak selalu bisa mengendalikan hasilnya, tetapi kita bisa mengendalikan respons kita terhadapnya. Dan hal itu adalah ketahanan. Ketahanan memberi Anda alat untuk bangkit kembali dari situasi sulit dan berkembang dalam menghadapi tantangan.[MY24]

Sumber: Forbes

Kata kunci: ,
Penulis:
BAGIKAN PENGETAHUAN INI AGAR LEBIH BANYAK YANG TAHU