Sains

Penelitian: Beberapa Orang Memang Bisa Mendeteksi Penyakit dari Foto

Kamis, 4 Januari 2018

My24hours.net, Perancis – Beberapa orang bisa mendeteksi penyakit seseorang dari foto, hanya dua jam setelah ia terinfeksi oleh kuman, kata para peneliti, Rabu (3/1/2018).

Mendeteksi penyakit.
Mendeteksi penyakit. Dapatkah Anda mengetahui pada foto siapa yang sakit akut dan mana yang tidak? Foto: Audrey Henderson – royalsocietypublishing.org

Para peneliti tersebut mengungkapkan dalam tulisan mereka, bahwa kemampuan mendeteksi infeksi sejak awal dan dari petunjuk terhalus pada wajah, belum pernah dibuktikan sebelumnya, tapi hal ini dianggap sebagai bagian dari keterampilan bertahan yang penting yang disebut “penghindaran penyakit”.

“Kemampuan untuk mendeteksi orang sakit akan memungkinkan orang untuk tidak dekat dengan orang sakit, dan karenanya meminimalkan risiko menjadi sakit jika orang tersebut membawa penyakit menular,” kata John Axelsson, peneliti dari Universitas Stockholm kepada AFP seperti yang dilansir The Straits Times.

Tim peneliti bereksperimen dengan 16 sukarelawan yang sehat, yang semua orang ras Kaukasia.

Masing-masing sukarelawan diberi suntikan lipopolisakarida (LPS) – molekul yang diambil dari bakteri.

Molekul LPS tersebut bersifat steril, artinya tidak ada bakteri hidup yang disuntikkan. Tetapi mereka menimbulkan respon imun yang kuat dan gejala mirip flu yang berlangsung beberapa jam – seperti seseorang yang “sangat sakit” dan dedang melawan infeksi.

Ini adalah metode yang biasa digunakan untuk menyebabkan infeksi pada manusia untuk tujuan eksperimen.

Pada kesempatan kedua, setiap peserta menerima suntikan plasebo atau “buatan”.

Para relawan difoto sekitar dua jam setelah setiap suntikan – sekali dalam keadaan sehat setelah menerima plasebo, dan sekali setelah “sakit”.

John menjelaskan, setelah disuntik LPS, beberapa peserta “merasa sangat sakit dan yang lainnya sama sekali tidak merasa sakit” ketika foto mereka diambil.

Kemudian, foto baik dalam keadaan sehat dan sakit dari para peserta tersebut ditunjukkan ke kelompok orang yang berbeda, yang harus menilai apakah orang tersebut sakit atau sehat.

Bibir pucat

“Para penilai dapat secara benar membedakan 13 dari 16 individu (81 persen) sebagai orang sakit,” kata penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B.

Hasil ini ada pada tingkat di atas rata-rata dari yang diprediksi oleh kesempatan murni saja.

Penelitian sebelumnya telah menggunakan foto “orang yang jelas-jelas sakit” untuk menimbulkan rasa jijik, kegelisahan dan bahkan respons kekebalan pada seseorang, namun para peserta dalam penelitian terbaru difoto dengan ekspresi netral dan sesegera setelah terinfeksi.

Sehingga demikian tidak ada bersin, batuk atau gejala penyakit lainnya yang mencolok.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa “manusia memiliki kemampuan untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit pada fase awal setelah terpapar rangsangan yang menular”, para penelitian menyimpulkan.

Individu yang sakit dinilai oleh pengamat karena memiliki bibir dan kulit yang pucat, wajah yang lebih bengkak, sudut mulut dan kelopak mata yang lebih turun, mata lebih merah, kulit kusam dan menipis.

Penemuan dalam mendeteksi penyakit ini bisa “membantu dokter dan perangkat lunak komputer untuk mendeteksi orang sakit dengan lebih baik,” kata John – alat diagnostik yang berpotensi berharga dalam wabah penyakit.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah tingkat deteksi infeksi tersebut serupa pada penyakit dan kelompok etnis ras lainnya.[My24]

Kata kunci:
Penulis:
SHARE ARTIKEL INI AGAR LEBIH BANYAK PEMBACA
loading...