Sains

Tidak Ada Tuhan Kata Stephen Hawking dalam Buku Terakhirnya

Rabu, 17 Oktober 2018

My24hours.net, Amerika Serikat – Tidak ada Tuhan – itulah kesimpulan fisikawan ternama Stephen Hawking, yang buku terakhirnya diterbitkan pada Selasa (9/10/2018).

Stephen Hawking: Tidak Ada Tuhan.
Stephen Hawking: Tidak Ada Tuhan.

Buku yang diselesaikan oleh keluarganya setelah ia meninggal, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dikatakan Hawking sebagai pertanyaan yang paling banyak ia terima selama masih hidup.

Kejutan lainnya, ilmuwan Inggris tersebut meninggalkan pembacanya dengan memasukkan keyakinan bahwa kehidupan asing ada di luar sana, kecerdasan buatan dapat mengalahkan manusia dan perjalanan waktu tidak dapat dikesampingkan.

Hawking yang dianggap sebagai salah satu ilmuwan paling cerdas di generasinya, meninggal pada bulan Maret pada usia 76 tahun.

“Tidak ada Tuhan. Tidak ada yang mengarahkan alam semesta,” tulisnya dalam “Brief Answers to the Big Questions.”

“Selama berabad-abad, dipercaya bahwa orang-orang cacat seperti saya hidup di bawah kutukan yang ditimbulkan oleh Tuhan,” tambahnya. “Saya lebih suka berpikir bahwa semuanya dapat dijelaskan dengan cara lain, oleh hukum-hukum alam.”

Sebagian masa dewasanya, Hawking menderita sklerosis lateral amiotrofik (amyotrophic lateral sclerosis – ALS), gangguan neurodegeneratif yang juga dikenal sebagai Lou Gehrig’s Disease.

Ilmuwan itu meninggal saat masih mengerjakan buku yang keluarga dan rekan-rekannya selesaikan dengan bantuan arsip pribadinya yang sangat banyak.

‘Semakin mencari ke dalam’

Saat Hawking berbicara tentang tidak kepercayaannya pada Tuhan selama hidupnya, beberapa dari jawabannya yang lain lebih mengejutkan.

“Ada bentuk-bentuk kehidupan cerdas di luar sana,” tulisnya. “Kita harus waspada terhadap jawaban balik sampai kita telah berkembang sedikit lebih jauh.”

Dan dia meninggalkan kemungkinan fenomena lain.

“Perjalanan kembali ke masa lalu tidak dapat dikesampingkan sesuai dengan pemahaman kita saat ini,” katanya. Dia juga memprediksi bahwa “dalam seratus tahun ke depan kita akan dapat melakukan perjalanan ke mana saja di Tata Surya.”

“Dia menyadari bahwa orang-orang secara khusus menginginkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini,” kata Lucy Hawking, putrinya yang membantu menyelesaikan buku tersebut, mengatakan kepada CNN.

Lucy menambahkan bahwa ketika meninggal Hawking melihat dunia di ambang “perubahan transformatif besar.””

“Dia meminta kita untuk tidak pergi ke masa depan secara membuta. Seberapa baikkah rekam jejak umat manusia dalam menggunakan kemajuan teknologi untuk kebaikan orang biasa?”

Dalam sambutan yang disiapkan oleh Hawking dan diperdengarkan pada peluncuran bukunya di London pada hari Senin, ilmuwan itu juga mengalihkan perhatiannya kepada dunia yang ditinggalkannya.

“Dengan Brexit dan Trump sekarang mengerahkan pasukan baru dalam kaitannya dengan imigrasi dan pengembangan pendidikan, kita menyaksikan pemberontakan global terhadap para ahli, dan itu termasuk para ilmuwan,” kata Hawking.

Hawking pernah mengkritik keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa, dan menyebut Donald Trump sebagai “demagogue” pada tahun 2016.

Putrinya mengatakan baha perhatian terbesar Hawking adalah “betapa terpecah belahnya kita.”

“Dia membuat komentar ini mengenai bagaimana kita tampaknya kehilangan kemampuan untuk melihat keluar, dan kita semakin mencari ke dalam diri kita sendiri.”

Namun, pesan terakhir Hawking kepada para pembaca adalah sebuah harapan.

Berusaha menjawab pertanyaan “Bagaimana kita membentuk masa depan?” dalam bab terakhir bukunya tersebut, ia menulis: “Ingatlah untuk melihat ke atas di bintang-bintang dan bukan ke bawah di kaki Anda.”[My24]

Sumber: CNN

Kata kunci:
Penulis:
SHARE ARTIKEL INI AGAR LEBIH BANYAK PEMBACA
loading...