Teknologi

Penelitian: Bermain “Video Game” Terkait Diskriminasi Seksual pada Remaja

Sabtu, 18 Maret 2017

My24hours.net, Perancis – Sebuah penelitian menunjukkan keterkaitan kebiasaan bermain video game pada remaja dengan sikap mereka terhadap diskriminasi seksual.

Bermain "video game" dalam jangka waktu tertentu mempengaruhi sikap seksis, kata peneliti.
Bermain “video game” dalam jangka waktu tertentu mempengaruhi sikap seksis, kata peneliti.

Penelitian terhadap ribuan penggemar video game di Perancis menemukan, semakin banyak waktu yang dihabiskan oleh seorang remaja dalam bermain video game, maka ia akan lebih besar menampilkan sikap stereotip gender dan seksis (seksisme), yaitu sikap meremehkan atau menghina berkenaan dengan kelompok, gender, ataupun individual.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Perancis dan AS tersebut membandungkan waktu yang dihabiskan oleh 13.520 anak muda yang bermain video game dengan sikap mereka terhadap perempuan dan peran gender.

Hasil penelitian yang dipublikasikan pada hari Jumat (17/3)di jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa peningkatan paparan dari video games berkaitan dengan tingkat stereotip dan seksisme yang lebih tinggi di kalangan remaja.

“Keterwakilan seksime memenuhi iklan, televisi dan bioskop. Video game tidak terkecuali,” kata Laurent Begue, peneliti dari Universitas Grenoble Alps, seperti yang dilansir AFP, Jumat (17/3/2017).

“Analisis konten telah menunjukkan bahwa kaum perempuan kurang terwakili dalam video game populer. Mereka memiliki peran pasif, mereka sebagai para putri yang perlu diselamatkan atau yang kedua, sebagai obyek penaklukan seksual,” tambahnya.

Meskipun kaum perempuan adalah korban utama dari stereotip, kaum pria juga terpengaruh, dengan digambarkan sebagai yang “lebih aktif, bersenjata dan berotot”.

Menurut Entertainment Software Association, tahun 2014 hampir setengah dari pemain video game adalah perempuan.

Baik anak laki-laki dan perempuan berpartisipasi dalam penelitian tersebut (masing-masing 51 dan 49 persen), tapi hasil menunjukkan bahwa seksisme lebih tinggi pada laki-laki.

Waktu bermain bervariasi dari satu sampai 10 jam dalam sehari.

Para peneliti dari Universitas Savoie Mont Blanc di Perancis dan Universitas Negara Bagian Iowa di Amerika Serikat juga berkolaborasi dalam proyek penelitian tersebut.

Percobaan sebelumnya telah menunjukkan bahwa bermain video game tertentu selama beberapa menit dapat memperkuat sikap seksis, tapi studi baru tersebut adalah yang pertama melakukan pemeriksaan berskala besar dari fenomena tersebut di kalangan remaja.

Jajak pendapat diajukan kepada para remaja berusia antara 11-19, yang tinggal di kota-kota bagian tenggara, Lyon dan Grenoble.

Begue memperingatkan bahwa meskipun keterkaitan antara seksisme dan video game “signifikan secara statistik”, pengaruh game pada sikap remaja masih terbatas.

Para peneliti tersebut mencatat gairah keagamaan merupakan penentu besar seksisme. Sebaliknya televisi memiliki dampak seksisme yang lebih kecil dibanding video game.

Para pakar tersebut juga khawatir bahwa video game bertema kekerasan dapat memberikan dampak negatif bagi penggunanya, memicu perilaku agresif. Komunitas ilmiah masih terbagi terhadap hubungan yang kontroversial antara video game dan agresi kekerasan.

Begue mengatakan akan “tidak adil” menyamaratakan semua video game dengan seksisme, para pelaku utamanya adalah yang menjadi yang utama.

Ia meminta para pengembang video game untuk menghindari memerangkap para karakter di video game menjadi stereotip gender.[My24]

Kata kunci: ,
Penulis:

 
loading...