Internasional

Sekitar 4.000 Teroris Rohingya Melarikan Diri ke Bangladesh

Sabtu, 28 Oktober 2017

My24hours.net, Myanmar – Sekitar 4.000 teroris Rohingya dipimpin oleh ARSA telah melakukan serangan ke Negara Bagian Rakhine, Myanmar pada 25 Agustus 2017.

Myanmar menghadapi teroris Rohingya
Myanmar

Menurut kesaksian mereka yang terlibat dalam serangan teror dan para saksi, pasukan keamanan memiliki daftar nama 2.222 orang Bengali yang mengklaim diri sebagai Rohingya, sertan nama desa mereka yang terlibat dalam serangan teror tersebut.

Menurut pernyataan dari Kantor Panglima Tertinggi Angkatan Pertahanan Myanmar yang dikeluarkan pada Selasa (24/10/2017), para teroris tersebut melarikan diri ke Bangladesh.

Pernyataan tersebut juga mengatakan klaim satu sisi dan tuduhan terhadap Myanmar dan anggota keamanannya mengenai serangan teror terhadap warga Rohingya di negara bagian tersebut sama sekali tidak benar. Dan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan dengan dalih fakta seperti hak asasi manusia dan kemanusiaan tersebut dapat menghambat keamanan nasional dan kepentingan nasional Myanmar.

Sejumlah etnis Rakhine, sejumlah warga Hindu Bengali dan sejumlah warga Muslim mengungsi ke Buthidaung, Maungdaw dan Sittway yang mereka anggap sebagai tempat yang aman bagi mereka. Sekarang mereka kembali ke rumah mereka karena keamanan di daerah mereka telah dipulihkan, katanya pernyataan tersebut seperti yang dilansir Eleven Myanmar, Kamis (26/10/2017).

Mengenai serangan teroris, pernyataan tersebut menyebutkan bahwa aparat keamanan dan badan administratif tidak melakukan ancaman untuk memaksa orang keluar dari rumah mereka. Faktanya mereka yang merasa tidak aman karena serangan teroris melarikan diri ke negara lain. Di daerah Buthidaung dan Maungdaw, ada desa-desa Bengali (Rohingya) yang tidak terlibat dalam serangan teror dan ada desa-desa Bengali (Rohingya) yang para penduduknya hanya beberapa yang mengungsi.

Terdapat banyak berita bahwa teroris Rohingya membakar rumah-rumah, mengancam mereka yang tinggal di desa-desa dan membujuk mereka untuk melarikan diri ke Bangladesh dan negara-negara lain.

Pemerintah Myanmar dan Bangladesh membuat negosiasi untuk memverifikasi dan menerima orang Bengali (termasuk mereka yang mengklaim diri sebagai Rohingya) yang mengungsi. Program penerimaan akan dilakukan dalam kerangka ketentuan yang ditetapkan dalam Deklarasi Bersama yang ditandatangani oleh menteri luar negeri kedua negara pada tanggal 28 April 1992 dan Undang-Undang Kewarganegaraan 1982.

Disampaikan dalam pernyataan tersebut bahwa pada saat serangan teroris terjadi, Panglima Tertinggi Angkatan Pertahanan Myanmar sedang melakukan kunjungan ke luar negeri. Sehingga, atas nama Panglima Tertinggi, Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Pertahanan bertemu dengan Presiden dan Penasihat Negara Myanmar di kantor mereka.

Wakil Panglima Tertinggi mempresentasikan langkah-langkah untuk segera memulihkan perdamaian, stabilitas, dan supremasi regional. Kantor Presiden mengumumkan sebuah zona operasi militer pada 25 Agustus.

Panglima Tertinggi dan Presiden mengadakan pertemuan terpisah pada tanggal 4 September. Panglima Tertinggi menerima arahan dari Presiden. Presiden memberikan instruksi untuk membuat bala bantuan karena memiliki jumlah pasukan yang memadai dan untuk memperkuat pagar perbatasan.

Teroris Rohingya yang dipimpin oleh ARSA meluncurkan serangan teroris yang tidak terduga terhadap lebih dari 30 pos polisi pada pagi hari tanggal 25 Agustus di Maungdaw, membunuh beberapa polisi dan staf pemerintah. Warga etnis Rakhine mengungsi dari rumah mereka dan lebih dari 20.000 di antaranya kehilangan tempat tinggal.[My24]

Kata kunci:
Penulis: