Internasional

Keji, Teroris Rohingya Culik dan Perkosa Warga Hindu Rakhine

Jumat, 15 September 2017

My24hours.net, Myanmar – Teroris Rohingya memperlihatkan kekejiannya dengan menculik, memperkosa, dan memaksa pindah agama terhadap warga Hindu di sebuah desa di Maungtaw, Rakhine utara.

Wawancara warga Hindu yang keluargannya dibunuh oleh teroris Rohingya. Foto: statecounsellor.gov.mm

Pada Sabtu malam (26/8), 12 keluarga berusaha untuk berlindung dari baku tembak antara teroris Rohingya dengan pasukan keamanan pemerintah di sebuah bangunan yang belum selesai di dekat Desa Myothugyi di Maungtaw, negara bagian Rakhine bagian utara.

Enam anggota keluarga, termasuk dua pria, seorang wanita dan tiga anak terbunuh oleh teroris yang mengklaim diri sebagai Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Kantor Berita Myanmar mewawancarai anggota keluarga warga Hindu yang masih hidup dan mempublikasikan kata-kata mereka di bawah ini seperti yang dilansir situs Penasihat Negara Myanmar (8/9/2017).

“Saudara lelaki saya, istri dan anak-anaknya dibunuh oleh teroris pada tanggal 26 Agustus,” kata Ko Ram Fawdar (20), seorang warga Hindu.

“Saudaraku mengelola toko tukang cukur di Myinlut. Pada hari itu, mereka melakukan perjalanan dari desa Alethankyaw dengan petugas keamanan dan saat mereka mencapai jarak tiga mil, mereka menuju ke Maungtaw sendiri,” lanjutnya.

“Mereka berada di dekat desa Myothugyi saat mereka mendengar suara tembakan dan lari ke lapangan Maungtaw yang masih dalam proses pembangunan. Teroris di lapangan distrik tersebut membunuh mereka. Saudaraku dan keluarganya terbunuh oleh para teroris,” jelas Fawdar.

Para teroris Rohingya juga menculik wanita warga Hindu dan memaksa mereka untuk pindah agama.

“Saudara lelaki saya adalah seorang tukang emas di Desa Khamaungsate. Nama saudara saya adalah Pufondor dan istrinya adalah Karikha. Mereka punya tiga anak. Saudaraku dibunuh dan istrinya diculik, dibawa ke Bangladesh dan dipaksa masuk Islam. Beberapa pria di desa tersebut juga terbunuh,” tutur Ko Khukan Dor (29).

“Sebanyak enam wanita, termasuk istri dan anak dari saudara saya diculik. Istri saudara laki-laki menelepon dari Bangladesh dan mengatakan bahwa saudara laki-laki saya dibunuh oleh teroris. Mereka diselamatkan dan dibantu oleh sebuah organisasi Hindu di Bangladesh,” jelas Khukan.

Seorang nenek bernama Daw Raburi (62) juga mennceritakan kemalangan yang menimpa keluarganya.

“Keluarga keponakan saya pergi ke Maungtaw dari desa Alethankyaw dan sampai jarak tiga mil, mereka bersama orang-orang lain. Ketika mereka melewati persimpangan tiga mil dan tiba di dekat desa Myothugyi, mereka mendengar suara tembakan dan berlindung di sebuah bangunan di dekatnya yang masih dalam tahap pembangunan dimana para teroris sudah di sana membunuh mereka,” kata Nenek Raburi.

“Sebanyak enam dari delapan keluarga keponakan terbunuh. Dua berhasil lolos ke Buthidaung dan mereka tidak ada di sini. Seorang warga Hindu dengan jarak sekitar empat mil melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang dan ketika pihak berwenang memeriksa, mereka menemukan mayat-mayat tersebut,”

“Bantu kami untuk tinggal dalam damai. Kami ingin kembali dan tinggal dimana kami tinggal,” pinta Nenek Raburi.

Pemerkosaan terhadap wanita warga Hindu juga dilakukan oleh teroris Rohingya, seperti yang dikisahkan oleh U Milawn (58).

“Di kamp ini, ada total 1.842 warga Hindu dari tiga desa yang melarikan diri dari bahaya teroris. Ada insiden ketika teroris membunuh 6 orang Hindu di dekat desa Myothugyi pada tanggal 26 Agustus,” kata Milawn menceritakan.

“Selain itu, 6 perempuan dan 4 anak diculik dan dibawa ke Bangladesh. Mereka yang menculik menyuruh mereka untuk pindah ke agama mereka dan menikahi mereka.”

“Karena wanita-wanita ini takut dibunuh, mereka setuju untuk pindah agama. Mereka (para wanita) juga diberitahu untuk mengatakan bahwa penduduk desa mereka tidak terbunuh oleh teroris tetapi oleh warga Arakan (Rakhine).

“Mereka kemudian diculik ke Bangladesh di mana para wanita diperkosa dan disiksa. Perempuan dan anak-anak ini diselamatkan oleh warga Hindu di Bangladesh. Mereka menghubungi kami melalui telepon dan mengatakan bahwa mereka berada di sebuah desa Hindu,” papar Milwan.

Cara-cara yang digunakan oleh teroris Rohingya ini mengingatkan pada perilaku Negara Islam (ISIS) yang juga memperkosa dan membunuh para wanita Yazidi.

Kekejian dari teroris Rohingya ini tampaknya tidak menarik dan menjadi pusat pemberitaan bagi media-media utama di barat maupun di Indonesia. Terlihat dari tak satu pun media yang memberitakan hal ini. Media tampaknya lebih tertarik dengan gelombang pengungsi tanpa membahas penyebabnya.

Teroris Rohingya (ARSA) melakukan serangan ke 30 pos polisi di Maungtaw pada 25 Agustus 2017, yang menyebabkan gemombang pengungsi di berbagai tempat.[My24]


Kata kunci: