Teknologi

India dan Tiongkok Ada Panel Surya Terapung, Indonesia Kapan?

Rabu, 18 Oktober 2017

My24hours.net, India – Pekerjaan konstruksi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menggunakan panel surya terapung di waduk Banasura Sagarm, Wayanad, India telah selesai.

Proyek pembangkit tenaga surya terapung di Kerala dan Andhra Pradesh akan menggunakan sel silikon kristal dan modulnya akan berkapasitas 310W.
Proyek pembangkit tenaga surya terapung di Kerala dan Andhra Pradesh akan menggunakan sel silikon kristal dan modulnya akan berkapasitas 310W. Foto: pv-tech – NUS Singapura

Ladang panel surya terapung terbesar di negara tersebut membentang seluas 6.000 meter persegi dengan menghasilkan kekuatan sebesar 500 kWp (kilowatt peak).

Panel-panel fotovoltaik (PV) surya dari peternakan tenaga surya terapung tersebut telah dipasang di 18 platform terapung yang terbuat dari pengapung plester dengan bagian dalam yang berongga.

“Pekerjaan instalasi panel surya terapung sudah selesai dan pembangkit trsebut akan segera siap diresmikan,” kata Manoharan P, asisten insinyur eksekutif di sub-divisi Badan Listrik Negara Bagian Kerala (KSEB) dan sub bidang keselamatan bendungan di Thariyode, seperti yang dilansir The Times of India, Selasa (17/10/2017)

Dia mengatakan bahwa proyek 500 kWp tersebut adalah proyek pembangkit surya terapung terbesar yang ada di negara tersebut. Pekerjaan proyek tersebut telah dimulai pada Maret 2016.

Sementara itu mendahului India, Tiongkok telah memiliki ladang tenaga surya terapung terbesar yang terletak di Huainan. Ladang panel tenaga surya tersebut yang rampung dikerjakan pada Mei 2017 tersebut kini telah aktif dan menghasilkan energi terbarukan sekaligus diklaim sebagai ladang terapung terbesar di dunia.

Dalam siaran persnya seperti dilansir PV Tech, 18 Mei 2017, perusahaan Tiongkok Sungrow Power Supply Co. mengumumkan bahwa jajaran panel-panel fotovoltaik (PV)tersebut dapat menghasilkan energi listrik 40MW.

Panel surya terapung yang terletak di lahan banjir dengan kedalaman air berkisar antara 4 sampai 10 meter ini dirancang secara modular. Terdiri dari enam kelompok yang luas, semuanya terhubung ke kotak konverter yang mengubah asupannya menjadi energi yang dapat digunakan.

Tiongkok sendiri telah berjanji untuk menginvestasikan ratusan miliar dolar untuk proyek energi terbarukan pada tahun 2020.

Sekarang, Tiongkok telah menjadi pemimpin dunia dalam adopsi energi terbarukan dalam upayanya untuk memimpin jalan menuju masa depan yang lebih hijau dan lebih berkelanjutan.

Meskipun pernah menjadi salah satu pelaku terburuk di dunia dalam bidang emisi karbon dan perubahan iklim, Tiongkok kini telah berusaha mengubahnya secara serius.

Desain ladang pembangkit tenaga surya dengan sistem terapung membuatnya lebih ramah energi daripada ladang panel surya di permukaan tanah.

Udara yang menguap dari permukaan air membantu menjaga panel tetap dingin, serta mengurangi kemungkinan malfungsi.

Keunikannya ini membuatnya dapat menyediakan listrik tanpa merusak ekosistem atau menghabiskan lahan.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Hingga saat ini Indonesia belum memiliki ladang panel surya terapung. Namun Indonesia telah mengembangkan pembangkit tenaga surya di daratan yang berkapasitas 5 MWP di Oelpuah, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

PLTS yang disebut merupakan pembangkit listrik tenaga surya terbesar yang ada di Indonesia tersebut telah diresmikan oleh Presiden Joko widodo pada 27 Desember 2015 lalu.

Energi terbarukan bukan hal yang bisa ditawar-tawar lagi keberadaannya demi kelestarian lingkungan hidup.

Meskipun Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan sinar surya berlimpah, tapi nampaknya Indonesia tergolong terlambat masuk dalam pengembangan PLTS terapung.

Ke depannya diharapkan Indonesia lebih gencar lagi memanfaatkan potensi-potensi energi terbarukan termasuk mengembangkan PLTS.[My24]

Kata kunci:
Penulis: