Kesehatan

WHO: Kematian karena Penyakit Hepatitis Meningkat

Sabtu, 22 April 2017

My24hours.net, Inggris – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan jumlah orang yang meninggal karena penyakit hepatitis meningkat, dan sebagian besar dari 325 juta orang yang terinfeksi tidak sadar bahwa mereka memiliki virus dan kekurangan akses terhadap obat-obatan yang berpotensi menyelamatkan nyawa.

Ilustrasi: Liver
Ilustrasi: Liver

Seperti yang disampaikan dalam laporannya global pertamanya mengenai infeksi tersebut pada Jumat (21/4), WHO mengatakan bahwa dengan adanya jutaan orang yang berisiko dari perkembangan penanggulangan yang lambat terhadap penyakit hati kronis, kanker dan kematian dini, diperlukan tindakan cepat pada pengujian dan perawatan.

“Penyebaran hepatitis sekarang menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat yang memerlukan tanggapan mendesak,” kata Margaret Chan direktur jenderal WHO dalam sebuah pernyataan seperti yang dilansir Reuters, Jumat (21/4/2017).

325 juta kasus yang dilaporkan adalah hepatitis B (HBV) atau virus hepatitis C (HCV) – jenis utama dari lima infeksi hepatitis yang berbeda dan bertanggung jawab atas 96 persen kematian akibat penyakit ini.

Infeksi HBV memerlukan pengobatan seumur hidup, WHO merekomendasikan tenofovir, obat anti-virus generik yang juga digunakan untuk pengobatan HIV.

Hepatitis C bisa disembuhkan dengan cukup cepat, namun obatnya terlalu mahal untuk kebanyak pasien.

Penekanan terhadap harga telah ditingkatkan, terutama di perusahaan Gilead Sciences AS – yang telah mengembangkan beberapa perawatan yang paling efektif – dan perusahaan tersebut telah mengambil beberapa langkah untuk menawarkan diskon dan menyediakan berbagai program pendekatan.

Program tersebut termasuk mengizinkan produsen obat India memproduksi lebih banyak versi murah untuk dijual di negara-negara berkembang.

Gottfried Hirnschall, direktur Departemen HIV dan Program Hepatitis Global WHO, mengatakan WHO bekerja sama dengan pemerintah-pemerintah, produsen obat dan perusahaan diagnostik untuk memperbaiki pendekatan.

“Lebih banyak negara membuat layanan hepatitis dapat tersedia bagi orang yang membutuhkan – biaya tes diagnostik kurang dari 1 dolar dan obat untuk hepatitis C bisa di bawah 200 dolar,” katanya.

“Tapi data tersebut dengan jelas menyoroti kemendesakan dimana kita harus mengatasi selisih yang tersisa dalam pengujian dan perawatan.”

WHO mengatakan, Hepatitis telah membunuh 1,34 juta orang pada tahun 2015, sebuah angka yang sebanding dengan tuberkulosis dan HIV / AIDS. Namun sementara kematian TB dan AIDS menurun, kematian hepatitis terus meningkat dan meningkat 22 persen sejak tahun 2000.

Sekitar 1,75 juta orang baru terinfeksi HCV pada tahun 2015, yang secara global mencapai 71 juta orang, dengan prosedur perawatan kesehatan yang tidak aman dan penggunaan suntikan obat sebagai penyebab utama.

Menurut laporan WHO tersebut, infeksi virus B yang baru menurun berkat vaksin yang diberikan sebagai imunisasi masa kanak-kanak kepada 84 persen bayi yang lahir pada tahun 2015.

Penyakit hepatitis sendiri adalah penyakit peradangan pada liver (hati) yang dapat disebabkan oleh genetik, infeksi virus dan alkohol serta obat-obatan. [My24]

Kata kunci:
Penulis: