Kesehatan

Kondisi Tidur Berikut Bisa Tingkatkan Gejala Demensia

My24hours.net, Amerika Serikat – Para ilmuwan percaya bahwa tanda-tanda dan gejala demensia lebih mungkin timbul pada orang yang tidur siang.

Kurang tidur nyeyak terkait dengan gejala demensia.
Ilustrasi

Namun, hal yang sama juga dapat terjadi pada orang yang kurang tidur nyenyak.

Apa Itu Demensia?

Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan berbagai penyakit progresif yang memengaruhi otak. Ada empat jenis utama penyakit ini yaitu: penyakit Alzheimer, demensia tubuh yang buruk, demensia vaskular dan demensia frontotemporal. Meskipun penyebab pasti demensia tidak diketahui, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa tidur siang hari bisa berarti Anda lebih berisiko terkena demensia

Para ilmuwan dalam penelitian tersebut menemukan mereka yang menyukai tidur siang cenderung memiliki lebih banyak protein tau yang membentuk kekusutan dalam otak, yang menyebabkan gejala demensia. Protein tau adalah protein yang ditemukan dalam neutron sistem saraf pusat.

Mereka juga menemukan kurangnya tidur nyenyak memacu protein jahat di otak tersebut yang dapat menghancurkan neutron.

Penelitian terhadap lebih dari 100 orang lanjut usia menemukan bahwa mereka yang tidak mendapatkan cukup “kualitas” tidur juga memiliki lebih banyak protein tau, yang menyebabkan hilangnya memori dan kebingungan.

Penelitian ini dapat mengarahkan kebiasaan malam hari yang dipantau untuk membantu mengidentifikasi pasien yang paling berisiko mengalami kondisi yang menghancurkan tersebut.

Tidur Gelombang Lambat (SWS)

Khususnya tidur nyenyak atau tidur gelombang lambat (slow wave sleep – SWS) yang sangat penting. SWS menurun secara alami seiring bertambahnya usia – pada pria berusia pertengahan 30-an dan wanita selama 50-an.

Peneliti utama Profesor Brendan Lucey, direktur Sentra Medis Tidur Universitas Washington di St Louis, mengatakan: “Kuncinya adalah bukan jumlah total tidur yang dikaitkan dengan (protein) tau.”

“Kuncinya adalah tidur gelombang lambat – yang mencerminkan kualitas tidur. Orang-orang dengan peningkatan tau sebenarnya tidur lebih banyak di malam hari dan lebih banyak tidur di siang hari – tetapi mereka tidak mendapatkan kualitas tidur yang sebaik itu.”

Temuan yang dipublikasikan dalam Science Translational Medicine menambah bukti yang mengaitkan kurang tidur dengan Alzheimer dan bentuk lain dari demensia.

Tidur siang sendiri saja secara signifikan terkait dengan tingkat tau yang tinggi.

Ini berarti dokter dapat mengidentifikasi pasien yang dapat memperoleh manfaat dari pengujian lebih lanjut tersebut hanya dengan bertanya ‘berapa banyak Anda tidur siang hari?’

Tahun lalu sebuah penelitian serupa oleh tim Amerika Serikat lain menemukan bahwa mereka yang tidur siang – ketika mereka seharusnya bangun – memiliki hampir tiga kali lipat amiloid beta. Ini adalah protein merusak lainnya yang dapat memicu demensia dengan menggumpal bersama dalam materi abu-abu dan membentuk plak.

Tidur Tidak Nyenyak Terkait Gejala Demensia

Prof. Lucey mengatakan lebih sedikit gelombang otak lambat yang terjadi selama bagian paling menyegarkan dari siklus tidur dikaitkan dengan tingginya tingkat protein otak tau beracun lainnya.

Dia mengatakan: “Yang menarik adalah kita melihat hubungan terbalik antara penurunan tidur gelombang lambat dan lebih banyaknya protein tau pada orang yang secara kognitif normal atau sangat lemah. Ini berarti berkurangnya aktivitas gelombang lambat mungkin menjadi penanda untuk transisi antara normal dan terganggu.”

“Mengukur bagaimana orang tidur mungkin merupakan cara non-invasif untuk menyaring penyakit Alzheimer sebelum atau ketika orang mulai mengembangkan masalah dengan memori dan berpikir.”

Tidur yang buruk adalah ciri khas Alzheimer. Orang dengan penyakit ini cenderung bangun dengan lelah. Dan malam-malam mereka menjadi lebih tidak menyegarkan karena kehilangan ingatan dan memburuknya gejala-gejala lain.

Tetapi hubungan antara tidur malam yang gelisah dengan Alzheimer tidak sepenuhnya dipahami. Prof. Lucey dan koleganya percaya bahwa mereka telah menemukan bagian dari penjelasannya.

Peserta penelitian yang memiliki lebih sedikit SWS yaitu yang mengonsolidasikan ingatan dan membuat kita terbangun dengan perasaan segar – memiliki lebih banyak protein tau.

Ini adalah tanda dan gejala demensia Alzheimer dan telah dikaitkan dengan kerusakan otak dan penurunan kognitif.

Ini menunjukkan kualitas tidur yang buruk di kemudian hari bisa menjadi tanda bahaya bagi kesehatan otak yang memburuk, kata Prof. Lucey.[MY24]

Sumber: Daily Express

Kata kunci: ,
Penulis:
SHARE ARTIKEL INI AGAR LEBIH BANYAK YANG BERILMU