Kesehatan

Perubahan Iklim Dapat Memengaruhi Alergi hingga Autisme

My24hours.net, Amerika Serikat – Perubahan iklim dan gangguan ekosistem berpotensi memengaruhi alergi, autisme, dan sistem autoimun, demikian laporan para peneliti.

Perubahan Iklim Dapat Memengaruhi Alergi hingga Autisme

Sebuah makalah baru di International Journal of Environmental Research and Public Health merinci efek perubahan iklim. Efek tersebut memengaruihi terhadap alergi, autoimunitas, dan mikrobioma, mikroorganisme menguntungkan yang hidup di dalam dan di dalam tubuh manusia.

Di sini, penulis makalah, Xue Ming, membahas bagaimana keseimbangan lingkungan yang lemah memengaruhi kondisi-kondisi ini. Ming sendiri adalah seorang profesor neurologi di Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey.

Berikut penjelasannya mengenai hubungan antara perubahan iklim dengan alergi hingga autisme.

Perubahan Iklim Dapat Memengaruhi Alergi hingga Autisme

Bagaimana perubahan iklim memengaruhi alergi pernapasan?

Perubahan iklim telah memperburuk penyakit alergi pernafasan dan telah mengubah toleransi sistem kekebalan dalam menanggapi racun. Ini menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit kekebalan. Orang dengan penyakit alergi pernafasan kronis yang memengaruhi hidung dan mata, seperti asma dan alergi, berada pada risiko tertentu. Ini karena peningkatan paparan serbuk sari dan peningkatan konsentrasi serta distribusi polutan udara.

Menurut American Academy of Allergy Asthma & Immunology, perubahan iklim telah meningkatkan intensitas musim serbuk sari sekaligus memperpanjang durasinya. Peningkatan karbon dioksida terbukti menyebabkan peningkatan reproduksi tanaman dan tingkat serbuk sari total. Hal ini terutama tanaman yang tumbuh subur pada konsentrasi karbon dioksida yang tinggi. Misalnya, serbuk sari ragweed telah meningkat konsentrasinya, dengan model yang memprediksi bahwa tingkatnya akan meningkat empat kali lipat dalam 30 tahun ke depan.

Badai petir, yang semakin sering terjadi karena kenaikan suhu laut, telah diketahui meningkatkan konsentrasi butir serbuk sari di permukaan tanah. Setelah menyerap air, biji-bijian ini dapat pecah dan melepaskan partikel alergen yang dapat menyebabkan gejala asma yang parah pada pasien asma atau alergi serbuk bunga.

Perubahan iklim juga dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi dan distribusi polutan udara seperti ozon, oksida nitrat, dan bahan kimia organik yang mudah menguap lainnya. Ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa polutan lingkungan yang terbawa udara ini mungkin sebagian bertanggung jawab atas peningkatan substansial penyakit pernapasan alergi yang terlihat di negara-negara industri selama beberapa dekade terakhir.

Bagaimana perubahan ekosistem memengaruhi alergi dan gangguan pernapasan?

Deforestasi dan penebangan berlebihan telah menyebabkan penurunan yang dramatis pada keanekaragaman spesies tumbuhan. Ketika satu spesies tanaman punah, spesies baru muncul untuk menggantikannya. Misalnya, karena pohon ek dipanen secara berlebihan untuk keperluan arsitektur, spesies pohon baru bermunculan. Dengan pohon baru ini muncul bentuk baru serbuk sari pohon, yang dihirup dan dicerna oleh manusia setiap hari.

Demikian pula, penggunaan pestisida yang meluas telah mengubah profil serangga, invertebrata, dan mikroorganisme yang bersentuhan dengan kita melalui tanah dan tumbuhan kita. Saat lingkungan berubah, tubuh kita dibombardir dengan organisme baru. Molekul yang menyusun organisme ini dikenal sebagai antigen. Oleh tubuh kita antigen dikenali sebagai sesuatu yang “asing” dan menciptakan respons peradangan.

Bagaimana hilangnya keanekaragaman hayati karena perubahan iklim dapat memengaruhi penyakit non-pernapasan?

Menurut Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, keanekaragaman hayati menurun lebih cepat daripada kapan pun dalam sejarah manusia, dengan hampir 1 juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah karena perubahan iklim.

Hilangnya keanekaragaman hayati yang terkait dengan perubahan iklim dapat memengaruhi mikrobioma, berpotensi menyebabkan penyakit inflamasi, autoimun, dan neurologis. Gangguan imunologis, seperti alergi makanan, sedang meningkat. Misalnya, beberapa penelitian menemukan bahwa peningkatan karbondioksida dan suhu berkorelasi dengan perubahan komposisi kacang tanah, sehingga tubuh lebih sulit menyesuaikan kekebalannya.

Apakah gangguan pada bakteri usus memengaruhi laju autisme?

Gangguan bakteri usus telah dikaitkan dengan penyakit neurologis seperti multiple sclerosis, autisme, dan penyakit Parkinson. Dalam penelitiannya Xue Ming menemukan metabolisme asam amino abnormal, peningkatan ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh, dan mikrobiom usus yang berubah di antara beberapa pasien dengan gangguan spektrum autisme.

Langkah apa yang dapat diambil untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat perubahan iklim?

Kita harus mengakhiri kerusakan lingkungan alam kita, mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengadopsi lebih banyak perilaku “hijau”. Dengan penelitian yang menunjukkan hubungan antara mikrobioma dan penyakit autoimun, inflamasi dan neurologis, sangat penting bagi kita untuk meminimalkan paparan antimikroba. Ini mungkin melibatkan perubahan pedoman untuk resep antibiotik oleh profesional medis. Selain itu, mengingat mikrobioma dipengaruhi secara langsung oleh lingkungan kita sehari-hari, penting untuk secara teratur membenamkan diri di alam dan membiasakan diri dengan lingkungan keanekaragaman hayati.[MY24]

Sumber: Rutgers New Jersey Medical School

Kata kunci: ,
Penulis:
BAGIKAN PENGETAHUAN INI AGAR LEBIH BANYAK YANG TAHU